Jumat, 10 November 2017

Mengubah yang Abstrak Menjadi Nyata



(Dimuat di PERADA Koran Jakarta, 01 Januari 2013)
Bagi para pejuang, mimpi merupakan kenyataan masa depan yang belum terealisasi. Ia bukan hayalan atau angan-angan semu. Keinginan kuat dan sikap optimis memberikan kekuatan untuk membangun mimpi dan menciptakannya menjadi kenyataan dalam hidup.
Belajar di negeri orang menjadi keinginan banyak pelajar. Mengenyam pendidikan di luar negeri tidak hanya sebatas menuntut ilmu, tetapi terdapat nilai keuntungan dan prestige tersendiri bagi pelajar yang mengalaminya. Namun, tidak semua orang mampu untuk pergi dan belajar di luar negeri karena beberapa alasan, seperti lemahnya kemampuan ekonomi. Di sinilah peran beasiswa sangat membantu untuk merealisasikan keinginan pelajar yang ingin menjelajah ke negeri lain dengan menuntut ilmu.
“Menerjang Batas, Mengejar Impian” merupakan buku yang berisi 26 kisah inspiratif para penerima beasiswa ke luar negeri. Buku ini ditulis oleh mereka yang barangkali bukan para penulis profesional, tetapi mereka adalah orang-orang hebat yang memiliki mimpi, cita-cita, dan keteguhan yang pada akhirnya berbuah kesuksesan dan pencapaian yang mengagumkan. Keseluruhan penulis yang menerima beasiswa ini rata-rata memiliki latar belakang dengan kemampuan ekonomi yang minim. Mereka memburu beasiswa belajar di luar negeri bukan hanya untuk diri mereka sendiri. Setelah pulang dari masa belajar, mereka kembali untuk mengamalkan ilmu mereka di kampung halaman masing-masing. Motto yang selalu mereka pegang teguh adalah “Think Globally! Act Locally!”.
Para penulis buku ini seperti yang ditulis oleh Diana Kartika Jahja dalam kata pengantarnya ingin menyampaikan bahwa keterbatasan bukanlah halangan; saling berbagi adalah suatu keharusan; idealisme dibutuhkan sebagai fondasi dasar; doa dan rasa syukur adalah kunci kesuksesan; dan pencapaian adalah proses perpaduan antara usaha dan kesempatan.
Farid Muttaqin, salah satu penulis, lahir dari desa kecil di Brebes yang pada tahun ’80-an hingga ’90-an “memaksa” penduduknya menjalani hidup dengan menjadi buruh atau melakukan urbanisasi. Ia lebih memilih menjadi urban daripada hidup sebagai buruh. Ia memiliki keyakinan bahwa hanya pendidikanlah yang akan mengubah hidupnya. Saat itulah ia memiliki tekad untuk belajar ke luar negeri. Ia percaya slogan “Another world is possible” bisa memberikannya optimisme bahwa dunia dan masa depan bukan hanya milik orang kaya atau arena kompetisi bagi mereka yang punya kuasa ekonomi dan politik, tapi milik mereka yang berani bermimpi dan berani bergerak untuk mewujudkannya. (hal. 2)
Lain halnya dengan Farid,  Nurman Siagian yang memperoleh beasiswa S2 ke Institute of Social Studies (ISS) Den Haag, Belanda, memiliki kesan bahwa ketika di luar negeri kecintaannya terhadap tanah air justru semakin tinggi. (hal.  185) Sementara Fadillah Putra, penerima beasiswa ke Austin, Amerika Serikat, memperoleh “barokah” dari kegemarannya menerjuni dunia tulis-menulis untuk belajar di luar negeri. (hal. 73)
Rafianti membuktikan keteguhan hatinya untuk memperoleh beasiswa ke luar negeri. Setelah gagal dalam tes TOEFL pada pendaftaran pertama, ia memutuskan untuk menjadi wartawan yang akhirnya mengantarkannya untuk mengikuti program beasiswa lagi dan akhirnya diterima untuk belajar di Negeri Seribu Kanal, negeri asal kompeni, di Wageningen University. Setelah menyelesaikan studi selama dua setengah tahun di sana, ia pulang kampung untuk melakukan penelitian dan pengelolaan tentang sampah dan ikut merumuskan kebijakan baik di tingkat lokal maupun nasional. (hal. 46)
Ada banyak cerita inspiratif dalam buku ini, pesan dan kesan mereka begitu menggugah pembaca untuk ikut melanjutkan studi ke luar negeri. Pembaca akan mendapatkan bukti bahwa pendidikan lanjut di luar negeri bukan hanya milik kaum jutawan, memiliki akses pada informasi terkini, serta tinggal di kota besar. Dengan membaca buku ini, pembaca akan optimis untuk mengubah yang abstrak menjadi nyata, dan yakin bahwa keterbatasan bukan halangan untuk meraih cita-cita.



Judul buku      : Menerjang Batas, Mengejar Impian
Penulis             : Alumni International Fellowship Program (IFP)
Penerbit           : Indonesia Social Justice Network (ISJN)
Cetakan           : Pertama, Agustus 2012
Tebal               : 364 + xii halaman
ISBN               : 978-602-19881-0-7

Diresensi oleh Saiful Arif Yazid
Pimred Buletin FILE PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran) Jakarta
dan Penggiat Alkitabah Literary di Pesantren Kreatif Alkitabah Pamulang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan Mencela