Jangan Mencela
Oleh: Saiful Arif Yazid
Perhatian besar
al Qur’an terhadap kehidupan manusia untuk mewujudkan kehidupan yang harmonis
ialah adanya larangan untuk saling mencela antara satu dengan yang lainnya. Allah
menjelaskan hal ini dalam ayat berikut:
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا
مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا
تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ
الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang
diolok-olokkan) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik daripada wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil
dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman; dan
barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itu orang-orang yang zalim.” (QS.
Al Hujurat [49]: 11)
Ibnu katsir (w. 774 H) ketika menjelaskan ayat ini mengatakan bahwa Allah
Swt. melarang menghina orang lain, yakni meremehkan dan mengolok-olok mereka.
Larangan ini berlaku bagi siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. Ibnu
Asyur (w. 1393 H) menyebut beberapa riwayat berkaitan dengan turunnya ayat ini.
Salah satunya ialah riwayat Ibnu Abbas yang dikutip dari Al Wahidi yang
menyebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Tsabit bin Qais, seorang
sahabat Nabi yang terganggu pendengarannya, dan karena itu beliau melangkahi
sekian banyak orang di majelis Nabi untuk bisa berdekatan dan mendengar
taushiyah Nabi. Tsabit ditegur oleh seseorang, tapi Tsabit balas bertanya:
"Siapakah ini?" Ketika orang itu menjawab, "Saya fulan",
maka Tsabit menyatakan bahwa orang itu anak fulanah yang terkenal memiliki aib
pada masa jahiliyah. Maka malulah orang tersebut, dan turunlah ayat ini menegur
Tsabit. Inilah yang disebut celaan, lanjut Ibnu Asyur.
Allah melarang kita untuk mencela orang lain karena kita tidak tahu
siapa yang lebih baik kedudukannya di sisi Allah. Karena bisa jadi orang yang
mencela lebih rendah derajatnya daripada orang yang dicela. Larangan mencela
ini mencakup dua hal.
Pertama, mencela dengan perbuatan.
Kedua, mencela dengan lisan.
Orang yang mencela dengan perbuatan adalah orang yang meremehkan orang
lain, merendahkan status sosial, membanding-bandingkan kekayaan, dan merasa
lebih baik keadaannya dibandingkan orang lain.
Sedangkan orang yang mencela dengan lisan adalah orang yang suka
mengejek dengan melontarkan kata-kata penghinaan, memanggil orang lain dengan
sebutan kasar, jorok, dan keji.
Ke dua celaan ini sangat dilarang dalam agama. Bahkan dalam sebuah hadis
yang diriwayatkan oleh Muslim (w. 261 H) disebutkan bahwa salah satu ciri orang
yang bangkrut, muflis, ialah orang yang suka mencela. Dalam hadis ini,
pahala orang yang mencela akan ditransfer kepada orang yang mencelanya, bahkan
ketika orang yang mencela sudah kehabisan quota pahala, dosa-dosa orang yang
dicela akan dipikulkan kepada yang mencela sehingga dia tidak bisa merasakan
pahala-pahala kebaikannya ketika di dunia semisal shalat, puasa, dan zakat. Dia bangkrut
di akhirat dan akan dilemparkan ke dalam neraka. Na’udzubillah min dzalik.
Untuk
menghindari sikap mencela ini, Rasulullah telah memberikan penjelasan bagaimana
cara kita bertutur kepada orang lain. Beliau bersabda,
وَمَنْ كَانَ
يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا ، أَوْ لِيَصْمُتْ
“Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka berkatalah
yang baik atau diam.” (HR. Bukhari-Muslim, dll)
Kalau kita tidak menemukan kosakata yang baik dan sopan ketika
berbicara dengan orang lain maka lebih baik kita menutup bibir kita dan menekuknya
sedikit ke atas sebagai tanda senyuman.
Cakep
BalasHapus