*Ini Versi Asli sebelum dipangkas sama redaktur :D
Judul : Antologi Puisi: Menatap Semesta Cinta
Penulis : Komunitas Tebar Puisi
Penerbit : Sembilan Mutiara Publishing, Trenggalek
Cetakan : I, Juli 2015
Tebal : xvi+166 halaman
Penulis : Komunitas Tebar Puisi
Penerbit : Sembilan Mutiara Publishing, Trenggalek
Cetakan : I, Juli 2015
Tebal : xvi+166 halaman
ISBN : 978-602-1264-39-3
(Dimuat di Book Review Harian Nasional, 24-25 Oktober 2015)
Banyak sekali cara untuk menikmati indahnya kehidupan ini. Salah satunya bisa dinikmati dengan menerjemahkan keindahan itu dalam bentuk puisi. Cabang kesusastraan ini biasa diciptakan oleh orang-orang “khusus” yang benar-benar merenungkan kehidupan. Puisi adalah alternatif laku “spiritual” untuk membuat hidup lebih bergairah.
Dunia kepenyairan Indonesia saat ini sedang mengalami masa-masa yang sulit, yang antara lain ditandai dengan minimnya minat dari penerbit-penerbit buku besar untuk menerbitkan buku-buku bergenre puisi. Ini seperti diakui oleh penerbit Altheras Publishing ketika menerbitkan buku antologi puisi “Gemirisik Ilalang Padang Sabana”, karya Agust Dapa Loka.
Kenyataan ini pun dirasakan oleh Komunitas Tebar Puisi. Tapi, perasaan optimis tidak akan bisa dikalahkan oleh fakta ini. Bersama-bersama dalam satu komunitas, orang-orang “khusus” dalam buku ini mengkompilasikan puisi mereka dalam judul “Menatap Semesta Cinta”. Buku yang ditulis oleh 30 pecinta sastra ini mengangkat tema yang berbeda-beda tapi tetap dalam satu lingkup, cinta dalam potret kehidupan.
Di awali dengan tema Persembahan Cinta Keluaga, para penulis merangkai kata untuk mengungkapkan cintanya pada anggota keluarga, terutama ibu. Kartika, misalnya, menggemakan syairnya, “Oh, Bunda, adalah engkau bidadari surga/ yang berpijak di bumi/ membawa surga di bawah telapak kakimu nan mulia/ oh, Bunda, aku mencintaimu tanpa henti/ seperti aku yang tak letih menguntai puisi//” (hal. 16)
Sosok seorang ibu memang selalu menjadi peneduh dalam keluarga. Kehangatan perhatian dan belai kasihnya menjadikan rumah serasa taman yang penuh dengan bunga, penuh kedamaian. Dalam “Surat Untuk Ibu”, Muhammad Syamsul memetaforkan sosok ibu sebagai hujan. Ibu/ engkau adalah hujan/ sebagai anak kecil/ aku selalu damai saat sedang bermain bersamamu/ bernyanyi, menari dan menghapus segala benci// (hal. 21)
Disusul dengan empat tema berikutnya, antologi puisi ini benar-benar mengajak untuk menjalani hidup dengan cinta. Tema Asmara Anak Adam dan Cerita Cinta akan membuat pembaca melayang dalam mengarungi indahnya cinta yang suci, bukan cinta yang penuh dengan nafsu. Heru Darmono dalam “Sajak Untuk Dewiku” mengajak untuk memastikan cinta dengan lamaran dan akad nikah. Bukan dengan “fatamorgana” cinta dan harapan palsu. Sepenggal puisinya itu berisi, “Dewiku. O, dewiku/ Aku punya pertanyaan yang tak harus kau jawab/ bahwa untuk menjalani kehidupan baru:/ adakah yang lebih berharga dari akad nikah?/ adakah yang lebih berpahala dari niat ibadah?/ adakah yang lebih surga dari samawa?//” (hal. 43)
Membaca puisi berarti memasuki ruang-ruang makna yang penuh dengan berbagai interpretasi. Puisi menjadi sarana efektif untuk “menyentil” cara hidup yang beraneka. Dengan bahasa yang “sedikit tapi mengena”, puisi mampu membuat kita merenung dan merasakan bahwa kadang kita hidup tak sesuai dengan aturan Tuhan. Memasuki temaPotret Negeri, kita akan memahami lebih dalam bahwa cinta tidak hanya untuk diri dan keluarga tapi juga untuk negeri, tempat di mana kita mencintai dan dicintai.
Dalam puisi berjudul “Kata Nenekku”, Alaina Fadhila, menggambarkan bahwa bangsa ini adalah bangsa ramah tamah, tebarkan pesona senyum rekah. Setiap harinya adalah kertas kosong yang dicatat dengan tinta darah sang pahlawan. Tapi itu semua kata nenek yang tersenyum perih/ Berucap lirih sambil terus mengunyah letih/ semoga sulaman nenek bukanlah sisa sirih/ yang berakhir di tempat sampah nan ringkih// (hal. 100)
Puisi dengan rima yang indah ini sebenarnya adalah kritik bagi penduduk bangsa. Di saat orang-orang mengajak tersenyum agar bahagia, tapi masih saja ada oknum tertentu yang merusak kebahagiaan dengan cara membenturkan perbedaan agama ataupun kepercayaan. Padahal, ketika merebut kemerdekaan, dulu, para pahlawan bersatu dalam kebhinnekaan.
Bagi Kethut R. Purnama dalam puisinya, “Semesta Cinta”, dunia ini hanyalah ruang tunggu. Setiap orang di dalamnya sama-sama pejalan yang sejenak duduk menunggu panggilan Tuhan. Karena itulah, untuk apa kita gaduh dan saling tuduh, saling sikut sampai lupa untuk bersujud. Kethut mengajak untuk banyak membaca dengan mata: mata kata, mata jiwa, dan mata semesta hingga bermuka-muka kita dengan makna. (hal. 146) Jika memahami sesuatu dari berbagai perspektif makna maka hidup akan penuh dengan cinta. Kita hanya singgah sementara di dunia ini. Hidup kita yang sejati berada di akhirat, hidup setelah kematian.
Maka, untuk mencapai cinta sejati kita harus sadar bahwa cinta kita hanyalah milik Tuhan. Itulah garis besar yang digambarkan dalam puisi-puisi pada tema terakhir, Pada Sang Maha Cinta. Tuhan selalu ada untuk kita. Kesadaran inilah yang juga ingin digaris bawahi dalam bait-bait puisi Rahmat Hidayat dalam judul puisinya “Tuhan Yang Hilang”. Setiap hari kita mengejar kehidupan fana, berseteru dengan permasalahan, membuat kita lalai akan kewajiban sebagai hamba. Rahmat dengan perasaan penuh “penyesalan” menulis, “Kutemukan Tuhanku yang hilang/ ataukah/ Aku yang sengaja menghilangkan-Nya// (hal.152) Ia menyadari hal itu setelah mendengar lantunan adzan yang selalu menggema dari corong surau atau masjid.
Buku ini, selain mengajak kita untuk tidak melupakan genre puisi dalam cabang sastra, juga mendobrak kesadaran kita tentang pentingnya untuk terus membangun cinta dan “membakar” hangus segala bentuk kebencian, kebrutalan dan egoisme.
Diresensi oleh Saiful Arif Yazid
Penikmat Buku, Guru di SDIT Az-Zahra Pondok Petir Depok dan Alumnus Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar