Kisah Kejujuran Wanita Desa
Diceritakan oleh Ibnul Jauzi dalam Ahkam An-nisa’ (h.
441-442) bahwa diriwayatkan oleh ‘Ayd bin Aslam, dari ayahnya, dari kakeknya,
yang berkata, “Ketika aku sedang menemani Umar bin Khaththab dalam patrolinya
di Madinah pada suatu malam, dia kelelahan, sehingga dia bersandar pada sebuah
dinding. Waktu itu tengah malam, dan (Kami mendengar) seorang wanita berkata
pada anak gadisnya,
Ibu: “Anakku! Bangunlah dan campurlah susu itu dengan air.”
Anak: "Ibu! Bukankah ibu mendengar keputusan dari Amirulmukminin (pemimpin
kaum mukmin) hari ini?”
Ibu: “Tentang apa itu?”
Anak: “Dia
telah memerintahkan orang untuk mengumumkan dengan suara lantang bahwa susu
seharusnya tidak dicampur dengan air.”
Ibu: “Bangun dan campurlah susu dengan air. Kamu
sekarang berada di suatu tempat di mana Umar tidak melihatmu.”
Anak: “Aku harus menaati-Nya
(Allah Swt.) dalam ramai dan mematuhi dalam sepi.”
Umar Ra., mendengar hal ini, dan memberitahukan kepadaku,
“Ya
Aslam, pergi ke tempat itu. Lihat siapa gadis itu dan dengan siapa dia
berbicara, dan siapa suaminya.”
Maka aku pergi ke tempat itu, dan aku melihat
bahwa dia belum menikah, wanita yang berbicara dengannya adalah ibunya. Aku datang
kepada Umar ra., dan menceritakan kepadanya apa yang telah aku jumpai.
Kemudian Umar memanggil anak laki-lakinya, dan berkata
kepada mereka,
“Apakah di antara kalian memerlukan seorang istri sehingga aku
bisa mengatur pernikahan untuk kalian? Jika aku berkeinginan menikah, aku akan
nikahi pertama kali wanita muda ini.”
Abdullah berkata, “Aku telah mempunyai seorang istri.”
Abdul Rahman berkata, “Aku mempunyai seorang istri.”
‘Asim berkata, “Aku belum memiliki seorang istri, jadi
biarkan aku yang menikahinya.”
Maka, Umar mengaturnya untuk menikahkan wanita tadi dengan ‘Asim.
Wanita itu kemudian memberikan seorang anak wanita, yang kelak tumbuh menjadi
ibu dari Umar bin Abdul Aziz.
Wanita muda ini benar dan jujur dalam semua perbuatannya,
dalam masyarakat atau pribadi, karena dia telah percaya bahwa Allah Swt. bersamanya
kapan saja dan melihat serta mendengar semuanya. Ini adalah iman yang
sebenarnya, dan ini adalah pengaruh-pengaruh keimanan, yang mengangkatnyha ke
tingkat ihsan. Satu dari pahala yang disegerakan oleh Allah Swt. yakni memberikan
keberkahan pernikahannya. Satu dari keturunannya adalah khalifah Umar bin Abdul
Aziz, pemimpin besar pada masa khilafah Umayyah.
(Dikutip dari buku: Harlis Kurniawan, 88 Kisah
Orang-orang Berakhlak Mulia, (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2016), h.
4-5)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar